Sang Juara Pulang ke Rumah yang Tak Pernah Libur
Aku tiba di rumah pukul 19.30. Belum sempat melepas sepatu, suara anakku yang baru delapan bulan menangis kencang. Suamiku duduk di sofa sambil menggulung layar ponsel. ‘Istriku pulang? Anakmu rewel terus, nih,’ katanya tanpa menoleh. ‘Anakmu.’ Bukan ‘anak kita’. Aku berganti pakaian. Kebaya berganti daster lusuh. Sanggul dibiarkan kusut. Aku gendong bayiku sambil menghangatkan susu. Sambil menyalakan rice cooker yang belum sempat kuatur sebelumnya. Sambil mengecek apakah kakaknya sudah makan malam.
Suamiku bertanya, “Masak apa malam ini?”Padahal di kulkas hanya ada telur dan tahu. Karena aku tak sempat belanja. Karena sore tadi aku masih meeting sampai jam 17.30. Karena aku adalah ‘perempuan hebat’ yang disuruh ‘flexible’ di kantor, tapi di rumah dituntut ‘sempurna’. Senyum lukaku mulai merekah. Lelah, tapi tetap tersenyum. Karena kalau aku mengeluh, aku akan disebut ‘perempuan yang tidak bersyukur’ atau ‘istri yang gagal memanage waktu’.













