Ketika Reproduksi Dianggap Alamiah Perempuan
Inilah luka yang paling diam-diam tapi paling dalam untuk pekerjaan reproduksi dan domestik yang tidak pernah dianggap sebagai kerja. Merawat anak? Itu naluri ibu. Memasak? Itu kewajiban istri. Mengurus rumah? Itu urusan perempuan. Tidak ada yang mencatatnya dalam PDB. Tidak ada yang memberi gaji. Tidak ada yang memberikan cuti. Tidak ada yang mengatakan ‘Terima kasih sudah mengurus rumah sehingga suamimu bisa fokus kerja’.
Sebaliknya, jika rumah berantakan, siapa yang disalahkan? Perempuan. Jika anak rewel, siapa yang dicari? Perempuan. Jika makan malam tidak enak, siapa yang dikritik? Perempuan. Kita sudah memberi perempuan hak untuk bekerja di luar rumah. Tapi kita tidak pernah mengambil alih separuh beban di dalam rumah. Kita hanya menambahkan peran baru tanpa mengurangi peran lama. Itu bukan emansipasi. Itu ‘eksploitasi dengan kebaya’.













