Dan untuk semua yang merayakan hari Kartini: 1) Jadikan peringatan Kartini sebagai momen introspeksi, bukan karnaval. Sebelum mengunggah foto kebaya, tanyakan pada diri sendiri, apa yang sudah aku lakukan tahun ini untuk meringankan beban perempuan di sekitarku? 2) Bicarakan luka, bukan hanya pencapaian. Kartini tidak hanya bercerita tentang terang. Dia juga bercerita tentang gelap. Tentang pingitan. Tentang ketidakadilan. Jangan takut membicarakan luka. 3). Dengarkan perempuan yang berbeda cerita.Tidak semua perempuan merayakan Kartini dengan bahagia. Ada yang sedang berjuang melawan kekerasan dalam rumah tangga. Ada yang sedang memulihkan diri dari scam. Ada yang sedang sendirian mengurus anak tanpa dukungan suami. Dengarkan mereka.
Dan Kartini.., maafkan aku. Aku memakai kebayamu. Aku membaca suratmu. Aku berdiri di podium memujimu. Tapi aku masih terjebak dalam tembok yang sama yang kau lawang. Tembok yang mengatakan bahwa sudah tugas perempuan mengurus anak. Tembok yang membiarkan laki-laki duduk diam sementara perempuan berputar seperti gasing. Tembok yang membuatku tersenyum di foto padahal di dalam hatiku ada luka dari sindikat yang memanfaatkan sifat mulia yang kau ajarkan.













