Tapi Kartini, aku belum menyerah!’.
Mari kita ubah itu. Mulai dari rumah kita sendiri. Mulai dari hari ini. Bukan hanya saat 21 April. Sampai saat itu tiba, setiap perayaan Kartini hanyalah karnaval senyum luka. Dan aku tidak ingin anak perempuanku tumbuh dengan senyum luka yang sama. Karena Kartini bukan hanya tentang terang. Kartini juga mengajarkan kita untuk berani melihat gelap, dan mengakuinya, sebelum kita bisa keluar dari sana.
Jika kamu membaca artikel ini dan merasa “ini ceritaku juga”, kamu tidak sendirian. Jika kamu pernah tertipu scam berkedok kebaikan, ‘kamu tidak bodoh’. Kamu tulus. Dan ketulusanmu dimanfaatkan oleh monster yang lebih pintar. Sekarang kamu tahu. Pengetahuan adalah perisaimu. Jika kamu merasa lelah dengan beban ganda di rumah, kamu tidak lemah. Kamu kelebihan beban. Dan itu bukan salahmu. Kamu berhak lelah. Kamu berhak dibantu. Kamu berhak untuk tidak tersenyum kalau sedang terluka. Dan kamu berhak untuk merayakan Kartini dengan cara yang jujur, bukan dengan kebaya dan sanggul semata













