Pemerintah jangan hanya focus pada ketersediaan obat dan vaksin. Apakah pemberian vaksin akan efektif ketika 3T tidak dijalankan dengan massif dan akurat? Padahal vaksin dan obat tidak bisa menjadi senjata utama untuk mengatasi pandemi COVID-19. Bila melihat sejarah, tidak ada pandemi yang selesai hanya karena kehadiran vaksin atau obat. Jangan sampai pengadaan vaksin dan obat hanya karena motif ekonomi semata.
Gambaran ini sejatinya membuktikan ketidakseriusan negara dalam menangani pandemi. Penerapan strategi utama 3T seharusnya dilakukan secara massif, akurat dan gratis. Hal ini dilakukan untuk mengetahui siapa yang sakit dan yang sehat. Selain gencar mengkampanyekan 3 M (Menjaga jarak, Mencuci tangan dan Memakai masker).
Penerapan 3T tentu berbeda dengan 3M yang lebih menekankan pada kesadaran individu. Dalam penerapan 3T sebenarnya pemerintah memiliki power yang lebih besar. Misalnya, ketika ada warga yang tidak mau dites, bisa dicari tau alasannya. Bisa jadi alasannya karena biaya tes yang tidak murah. Jangankan buat tes, buat makan sehari-hari saja sulit. Pemerintah jangan pilih kasih, yang difasilitasi hanya warga yang memiliki KTP di dareh tersebut, misal harus punya KTP Karawang. Karena faktanya di Karawang sendiri banyak pendatang.













