Sebagai orang Indonesia yang pernah bertugas di PBB, saya melihat Selat Malaka memiliki kerentanan yang sama dengan Selat Hormuz. Perbedaannya: Hormuz mengangkut 20 persen minyak global. Malaka mengangkut sepertiga barang perdagangan dunia, termasuk komponen elektronik, bahan baku industri, dan hasil manufaktur China, Jepang, Korea.
Siapa pun yang bisa menutup Selat Malaka dalam 72 jam akan melumpuhkan ekonomi China, Jepang, dan Korea Selatan sekaligus. Ini bukan teori. Ini fakta strategis.
Pertanyaannya sekarang: siapa yang menjaga Malaka? Apakah TNI AL cukup kuat? Atau justru diplomasi ASEAN yang menjadi benteng tak terlihat? Saya tidak punya jawabannya sekarang. Tapi saya tahu: jika kita tidak serius menjaga Malaka, kita hanya mengandalkan keberuntungan. Dan keberuntungan tidak pernah abadi.













