Penutup
Selat Hormuz mengajarkan kita satu hal: garis antara kompromi dan neraka sangat tipis. Di sana, Iran mengirim perwira militer sebagai negosiator, efisien tapi juga berbahaya. AS memilih mundur suatu langkah cerdas, bukan pengecut.
Dan di sini, di Indonesia, kita punya Selat Malaka yang sama rentannya. Jika kita tidak serius menjaganya, kita hanya mengandalkan keberuntungan.
Sementara itu, saya akan terus mencangkul, memupuk, dan memanen. Karena pada akhirnya, ketahanan pangan dan kegembiraan adalah bentuk pertahanan paling jujur yang bisa seorang prajurit berikan untuk bangsanya.
*Salam Bahagia dan salam sehat selalu*
Page 6 of 6













