Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut resolusi yang diusulkan sebagai ujian atas kegunaan PBB, dan mendesak China dan Rusia untuk tidak memvetonya. Namun diplomat PBB mengakui bahwa draf baru tersebut tidak mengatasi keberatan China dan Rusia.
Begitulah wajah Dewan Keamanan saat ini: sebuah panggung megah di mana para aktor global berorasi dengan indah, tetapi tak satu pun tergerak untuk benar-benar menghentikan pertumpahan darah. Kemandekan ini dikunci oleh hak veto, sebuah instrumen yang memberikan kekebalan diplomatik bagi negara adidaya.
Ini bukan hanya soal formulasi kata “hak veto”. Ini adalah kegagalan struktural. Seperti dikatakan Presiden Soeharto di hadapan Sidang Umum PBB 1995 yang hingga 31 tahun kemudian masih terasa relevan, PBB gagal menciptakan perdamaian dunia karena akar ketidakadilan tak pernah terselesaikan.













