Yang menjadi pertanyaan: di tengah baku tembak itu, di mana suara Dewan Keamanan PBB?
*Ketidakberdayaan yang Terstruktur: Ketika Veto Melumpuhkan DK PBB*
Washington telah berulang kali mengajukan draf resolusi ke DK PBB. Kedengarannya mulia: menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz dan menghentikan serangan. Namun hasilnya nihil.
Pada tanggal 7 April 2026, Rusia dan China memveto resolusi AS yang memberi jalan bagi legitimasi aksi militer AS terhadap Iran. Sebuah langkah yang digambarkan oleh misi Rusia sebagai penolakan terhadap “draf resolusi sepihak dan konfrontatif” yang dapat “memicu gelombang eskalasi baru di Timur Tengah”.
Tidak berputus asa, AS merevisi drafnya, menghilangkan referensi ke Bab VII Piagam PBB yang mengizinkan tindakan militer. Namun, bahasa keras terhadap Iran tetap ada, dan resolusi tersebut kembali “menegaskan hak negara anggota untuk mempertahankan kapal mereka dari serangan dan ancaman”.













