Tidak perlu berdiplomasi halus untuk memahami apa yang terjadi di Selat Hormuz saat ini, lokasi vital yang mengalirkan sekitar seperlima minyak mentah dunia. Mari kita telusuri fakta-fakta keras di lapangan.
Diawali serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 -4. Iran merespons. Rudal jelajah dan drone tempur diluncurkan. Pada awal Maret, pasukan AS sendiri dikabarkan mengalami sekitar 150 personel terluka. Dampaknya meluas hingga ke negara-negara Teluk sekalipun, dimana Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan UEA semuanya menjadi sasaran rudal dan drone Iran yang membidik pangkalan militer, bandara, kilang minyak, dan pusat data.
Korban sipil pun tak terelakkan. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, melaporkan bahwa lebih dari 1.300 warga sipil tewas dalam perang, serta 9.669 fasilitas sipil termasuk hampir 8.000 rumah tinggal hancur akibat serangan AS dan Israel. “Daerah pemukiman penduduk” dan “infrastruktur sipil kritis” sengaja menjadi target, yang digambarkan Iravani sebagai “kejahatan mengerikan”.













