Pada titik inilah kekhawatiran saya yang paling dalam muncul. Blokade Hormuz bukan hanya masalah Timur Tengah. Ia adalah sebuah cermin dan pelajaran bagi China. Seperti yang ditulis oleh jurnal The Atlantic pada April 2026, Iran berhasil membuat AS mundur dari ancaman militer besar-besaran hanya dengan memblokade Selat Hormuz selama lima pekan. China, yang jeli membaca dinamika ini, tentu bertanya dalam hati: jika Taiwan yang memasok lebih dari sepertiga kebutuhan mikrochip dunia kita blokade, berapa lama AS akan bertahan?
Para pakar hubungan internasional telah memberikan peringatan yang tidak bisa kita abaikan. Dr. Robert Kelly dari Pusan National University di Korea Selatan menyatakan dengan tegas: “The pivot is dead. Either US allies in East Asia step up and do a lot more, or we need to start thinking about accommodating China’s regional leadership.” Artinya, strategi AS untuk memfokuskan diri di Asia Pasifik telah mati karena tersedot ke konflik di Iran dan Ukraina. Kawasan Indo-Pasifik kini tanpa pengawas utama.













