Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York 2017–2019)
JAKARTA || Bedanews.com – Ketika saya masih bertugas di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada tahun 2017 hingga 2019, saya kerap menyaksikan bagaimana Iran selalu hadir sebagai “agenda tersembunyi” di balik setiap resolusi yang membahas Timur Tengah. Kala itu, saya khawatir. Saya melihat bagaimana Amerika Serikat dan China saling berhadapan secara diplomatik, dengan Iran menjadi papan catur yang senyap. Kini, kekhawatiran lama itu telah menjadi kenyataan di depan mata kita: blokade de facto di Selat Hormuz. Namun ini bukan sekadar perang regional antara AS dan Iran. Ini adalah babak baru dari perang terselubung antara AS dan China, sebuah perang yang panggung utamanya adalah jalur sutra dan target utamanya adalah dominasi ekonomi Beijing.













