Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20 persen minyak mentah dunia. Dengan adanya konflik bersenjata antara AS dan Iran, jalur ini kini terganggu secara signifikan. China, yang sebelum konflik mengimpor lebih dari satu juta barel minyak Iran setiap harinya atau sekitar 80 hingga 90 persen dari total ekspor minyak Iran, kehilangan pasokan vitalnya. Akibatnya, harga energi melonjak, inflasi mulai menggerogoti sektor industri China, dan cadangan strategis Negeri Tirai Bambu tersebut tergerus. Saya katakan dengan tegas: ini bukan sekadar rudal yang menghantam kapal-kapal di teluk. Ini adalah hantaman langsung terhadap jantung mesin ekonomi China.
Saya memilih frasa “perang terselubung” karena Amerika Serikat tidak pernah secara resmi mendeklarasikan perang terhadap China. Secara formal, konflik ini adalah pertikaian AS dengan Iran. Namun bukti di lapangan menunjukkan arah yang berbeda. Infrastruktur strategis yang dibangun China di Iran seperti jalur kereta api China-Iran yang baru diresmikan pada Mei 2025 untuk mengangkut minyak dan barang tanpa melalui jalur laut yang dikuasai AS menjadi sasaran serangan udara. Pelabuhan Bandar Abbas yang menjadi simpul logistik utama juga dilaporkan terkena serangan. Investasi China senilai ratusan miliar dolar dalam kerja sama 25 tahun dengan Iran terancam hancur. Dan semua ini terjadi tanpa satu pun resolusi Dewan Keamanan PBB yang secara tegas mengutuk AS sebuah kenyataan yang, sebagai mantan penasihat militer Indonesia di PBB, saya tahu betul menunjukkan titik lemah sistem multilateral kita.













