*Kita sedang menyaksikan lahirnya tatanan dunia baru yang tidak ditulis dengan tinta, tetapi dengan blokade, akses udara, dan peringatan diplomatik.*
Di tatanan baru ini, perang tidak lagi dimenangkan oleh siapa yang paling banyak menjatuhkan bom. Perang dimenangkan oleh siapa yang paling mampu:
Pertama, Mencekik musuh secara ekonomi tanpa harus menembak, itu yang AS lakukan ke Iran.
Kedua, Membungkus gencatan senjata sebagai perdamaian sambil tetap mempertahankan posisi militer, itu yang Israel lakukan di Lebanon.
Ketiga, Memberi peringatan tanpa mengucapkan kata ancaman, itu yang China lakukan kepada kita.
*Dan Indonesia? Di mana posisi kita di tatanan baru ini?*
Saya katakan dengan penuh tanggung jawab sebagai mantan penasihat militer PBB: *Indonesia sedang berada di persimpangan paling kritis sejak reformasi*. Kita tidak bisa lagi bersembunyi di balik frasa “bebas aktif” tanpa menerjemahkannya ke dalam tindakan konkret. Bebas aktif bukan berarti tidak memihak. Bebas aktif *berarti memihak kepada kepentingan nasional sendiri dengan cara yang cerdas, tidak emosional, dan penuh perhitungan*.













