Dengan segala hormat kepada para petinggi di Jakarta, saya bertanya: *apakah perjanjian ini pernah disimulasikan skenario terburuknya*? Atau kita hanya berani membaca halaman manfaat, sementara halaman risiko kita sembunyikan di lemari besi?
Saya tidak anti-AS. Saya tidak pro-China. Saya pro-Indonesia. Dan seorang pro-Indonesia harus berani bertanya keras kepada dirinya sendiri:
Pertama, Berapa persen risiko kita ditarik ke dalam konflik dua adidaya?
Kedua, Apa yang akan China lakukan jika pesawat mata-mata AS yang lewat di atas Natuna mereka anggap sebagai provokasi?
Ketiga, Apakah rakyat Indonesia yang membayar pajak diberi tahu secara transparan tentang detail perjanjian ini?
Sebab perang masa depan tidak selalu dimulai dengan tank di perbatasan Kalimantan. Perang masa depan bisa dimulai dengan overflight clearance yang salah peruntukan. Pesawat AS yang lewat bisa dimaknai China sebagai ancaman. Dan ketika China bereaksi, Indonesia yang berada di tengah akan terkena imbasnya, entah ekonomi, politik, atau tekanan militer non-konvensional.













