Oleh: M. Rofik M.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Pernahkah Anda membayangkan bagaimana dinamika besar dalam organisasi keagamaan terbesar di Indonesia bisa berkelindan erat dengan urusan dapur dan pelaminan? Di tengah riuhnya wacana publik dan perdebatan nasab yang tak kunjung usai dalam beberapa tahun terakhir, sebuah panggung sosial bernama Nahdlatul Ulama (NU) tetap berdiri kokoh. Menariknya, benteng keberadaan para penganut tradisi Ba’alawi di negeri ini seolah tak pernah benar-benar goyah. Apakah ini murni karena ikatan spiritual yang merakyat, atau ada jalinan kekeluargaan strategis di lingkar atas elit keagamaan?
Jika kita menengok ke dalam struktur PBNU, Rois ‘Amm KH Miftachul Akhyar memiliki menantu yang berasal dari kalangan Ba’alawi, yakni Sayyid Muhammad Al-Kaff. Fenomena ini bukanlah sekadar urusan pernikahan biasa, melainkan cermin dari relasi sosial-keagamaan yang amat mengakar. Di lapangan, pertautan ini menunjukkan bagaimana modal sosial dan kultural saling bertaut secara alami, menciptakan ikatan yang tak mudah retak oleh polemik akademis maupun narasi media sosial.













