Di tengah dinamika tersebut, nama-nama yang mengemuka antara lain KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai petahana, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), KH Zulfa Mustofa, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), dan KH Abdussalam Shohib (Gus Salam). Masing-masing membawa jejaring sosial, tradisi pesantren, pengalaman organisasi, serta basis dukungan yang berbeda. Namun, pertanyaan paling penting sesungguhnya bukanlah siapa yang akan menang, melainkan apakah NU mampu keluar dari Muktamar ini dengan institusi yang semakin kuat.
Dalam konteks itu, patut diketengahkan pandangan Paul G. Lewis, Lewis menjelaskan bahwa, faksionalisasi merupakan konsekuensi yang hampir tidak terhindarkan dalam organisasi yang besar, kompleks dan memiliki banyak pusat kepentingan akan melahirkan kelompok-kelompok yang memperjuangkan gagasan maupun figur yang berbeda. Dalam perspektif ini, keberadaan berbagai poros dukungan terhadap para calon Ketua Umum PBNU bukanlah anomali, melainkan gejala normal dari organisasi yang hidup.













