Oleh: Razikin, S.H.I, S.H, M.H, M.I.P (Peneliti Said Agil Siraj INSTITUT)
JAKARTA, Bedanews.com-
Muktamar Nahdlatul Ulama selalu memiliki makna yang melampaui pergantian kepemimpinan. Ia adalah forum tertinggi jamâiyah tempat tradisi keilmuan, otoritas keulamaan, mekanisme organisasi dan cita-cita kebangsaan bertemu dalam satu ruang musyawarah. Karena itu, kontestasi Ketua Umum PBNU bukan sekadar kompetisi antarfigur, melainkan ujian atas kedewasaan institusional organisasi Islam terbesar di dunia.
Muktamar ke-35 memperlihatkan dinamika yang menarik. Perdebatan tidak hanya berkisar pada siapa yang paling layak memimpin PBNU lima tahun ke depan, tetapi juga menyangkut bagaimana pemimpin itu dipilih. Perdebatan mengenai mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dan sistem pemungutan suara menunjukkan bahwa demokrasi internal NU sedang bekerja. Lima calon Ketua Umum PBNU bahkan menyatakan kesepakatan untuk mendorong mekanisme AHWA sebagai bagian dari proses seleksi kepemimpinan, sementara forum muktamar memutuskan mekanisme penjaringan melalui voting sebelum nama-nama tersebut diserahkan kepada AHWA.













