Justru karena NU kaya akan kader, maka tidak boleh ada ruang bagi politik saling menegasikan. Yang dibutuhkan adalah kompetisi yang elegan, argumentatif dan berorientasi pada masa depan organisasi.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling keras berkampanye dalam Muktamar ini. Sejarah akan mencatat siapa yang paling besar jiwanya menerima hasil muktamar, siapa yang paling ikhlas merangkul lawan politiknya menjadi sahabat seperjuangan dan siapa yang mampu menjaga NU tetap menjadi rumah besar seluruh Nahdliyin.
Pemimpin boleh berganti, mekanisme dapat berubah mengikuti keputusan muktamar, tetapi satu hal tidak boleh berubah: persatuan jam’iyah. Sebab, di atas seluruh kontestasi, Nahdlatul Ulama adalah amanat sejarah yang harus diwariskan dalam keadaan lebih kuat kepada generasi berikutnya. wallahu a’lam bissawab. ***













