Gerald M. Pomper juga mengingatkan bahwa forum tertinggi organisasi memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada memilih pemimpin. Muktamar merupakan arena untuk memperbarui aturan organisasi, memperkuat kaderisasi, serta menetapkan arah strategis kelembagaan.
Karena itu, keberhasilan Muktamar ke-35 tidak dapat diukur hanya dari terpilihnya seorang Ketua Umum PBNU. Keberhasilannya juga ditentukan oleh kemampuan muktamar melahirkan agenda besar bagi abad kedua NU: memperkuat kualitas pendidikan pesantren, mempercepat transformasi digital organisasi, memperkokoh kemandirian ekonomi warga, meningkatkan kualitas kaderisasi ulama, serta menjaga peran NU sebagai penjaga moderasi Islam dan pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam konteks tersebut, keenam figur yang mengemuka sesungguhnya merupakan aset NU. Gus Yahya membawa pengalaman sebagai petahana dengan rekam jejak kepemimpinan yang akan dinilai para muktamirin. Gus Kikin dikenal memiliki basis kuat di lingkungan pesantren Jawa Timur. Gus Rozin menawarkan pengalaman panjang dalam kepengurusan dan jejaring nasional. KH Zulfa Mustofa membawa pengalaman sebagai pimpinan PBNU. Gus Yusuf dikenal sebagai representasi pesantren dan kader muda, sementara Gus Salam hadir dengan basis keulamaan yang juga diperhitungkan. Perbedaan latar belakang mereka menunjukkan bahwa NU tidak kekurangan kader.













