Terlahirkan sebagai anak tertua dari empat bersaudara, dua wanita dan dua pria, sejak kecil hingga dewasa, Yemi tumbuh sebagai wanita perkasa melebihi keperkasaan 2 adik laki-lakinya. Di proyek tempatnya bekerja, ia sama sekali tak merasa risi menjadi satu-satunya wanita yang semuanya pria. Namun dia tetap seorang wanita tulen yang kelembutan hatinya melebihi seorang wanita biasa. Lembut hatinya, selembut sutra.
Bagaimana tidak perkasa, aktivitasnya membuat kita geleng-geleng kepala. Dari cara berjalannya yang tidak bisa gemulai seperti layaknya seorang wanita, apa yang lazim dilakukan kaum pria ia pun bisa melakukannya.
Itulah yang membuatnya gagal diterima menjadi pramugari dari semua maskapai penerbangan yang pernah dilamarnya. Hanya satu kegagalannya, yaitu “cara berjalannya masih gagah perkasa”.













