Terlepas dari sikap pro – kontra terhadap aksi massa yang terjadi akhir-akhir ini, ada ruang untuk menjadikan momentum muhasabah, introspeksi, berbenah memperbaiki diri bagi semuanya.
Masih terlihat, sejumlah (oknum?) unsur birokrasi melayani publik setengah hati, nongkrong di warung pada jam kerja pagi, di toko pada jam kerja dan ketika ke kantor jam 12.00, dikatakan jam istirahat. Padahal di kantor terpampang semboyan: “Pelayan prima”.
Ada presensi jam kedatangan dan kepulangan dengan format digital, masih saja ada yang mengakali. Ada gaji tetap, tunjangan, insentif, sertifikasi, bonus dan pendapatan lainnya, tetapi masih saja ada yang pungli dan korupsi. Padahal di kantor terpampang semboyan: *”Kawasan bebas pungli dan korupsi”*.
Pejabat dan birokrat masih ada yang arogan, elitis dan hedonis verbal. Kata dan perbuatan tidak seirama. Poster dan beleho yang terpampang penuh senyum dan keramahan, menyapa dengan hati dan merangkul dengan kesetaraan, tetapi memukul dan menginjak dalam pembuatan regulasi dan permisif dalam merespon aspirasi dan kritik.
Padahal dalam poster dan beleho mereka tertulis *”Sedulurku kita saudara”*.













