Sebenarnya tanah yang kita injak ini milik siapa?
Kunaon di lembur sorangan, di tanah tumpah darah kita sendiri, kami jadi heureut lengkah?
Mau mengerjakan apa yang dulu leluhur kita kerjakan saja, syaratnya banyak sekali, narasinya panjang sekali.
Alasannya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Kesalahpahaman dengan siapa?
Kalau ini memang benar-benae Tanah leluhur kita, dan kita memang berdaulat sebagai pribumi, Tuan dirumah kita sendiri, siapa sesunguhnya yang akan salah faham, saat kita melakukan apa yang sejak ratusan tahun lalu nenek moyang kita lakukan?
Terus muncul lagi satu kalimat yang sangat menyudutkan dan menyakitkan : Katanya “MERESAHKAN? ”
Apa dan siapa yang jadi resah?
Siapa yang kita ganggu?
Dan Apa yang telah kita rusak dengan hadirnya budaya Pituin kita?













