Singkatnya, tulisan apresiasi ini terasa relevan dan menenangkan. Banyak netizen menilai Sya’ban sering terlewat karena fokus langsung ke Ramadan, padahal justru di sinilah kualitas iman dibentuk. Analogi “menyiram sebelum panen” dianggap sederhana namun mengena, mudah dipahami lintas kalangan. Pesan tentang konsistensi, muhasabah, dan pembersihan relasi sosial dinilai kontekstual dengan kehidupan modern yang serba tergesa. Netizen juga mengapresiasi keterkaitan Sya’ban dengan dunia pendidikan dan pembentukan karakter, bukan sekadar ritual ibadah. Artikel ini dinilai reflektif, edukatif, dan mengajak pembaca mempersiapkan Ramadan secara lebih matang dan bermakna. Wallahu A’lam.











