Perspektif internasional juga memberikan sudut pandang menarik. Peneliti asal Belanda, C.A.O. van Nieuwenhuijze, dalam Aspects of Islam in Post-Colonial Indonesia (The Hague: W. van Hoeve Ltd., 1958, hlm. 110), menggambarkan betapa integrasi nilai sosial dan pertahanan di Indonesia memiliki keunikan tersendiri dibanding negara-negara pascakolonial lainnya. Sementara itu, kajian pakar Jerman, Marcus Mietzner, dalam Military Politics in Post-Suharto Indonesia (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2009, hlm. 85), menggarisbawahi tantangan TNI dalam menjaga keseimbangan antara modernisasi alutsista dan reformasi internal di tengah arus demokratisasi.
Kembali ke Pasar Legi, babinsa yang mengangkut karung beras tadi mungkin tak membaca buku-buku tebal itu. Yang ia tahu, tugasnya adalah hadir saat rakyat membutuhkan. Di usianya yang ke-81, ujian terbesar TNI bukanlah seberapa canggih radar yang dimiliki, melainkan seberapa dalam kepercayaan rakyat tetap terpatri di dada setiap prajurit. Sebab, benteng pertahanan terkuat Republik ini tidak terbuat dari beton atau baja, melainkan dari detak jantung rakyat yang merasa dilindungi dan dicintai oleh tentaranya sendiri.***













