DEMAK || Bedanews.com — Gapoktan Karya Makmur, Desa Pasir, bersama Prof. Suryo Wiyono, Dekan Fakultas Pertanian IPB dan PT. SRI (Suryo Riset Indonesia), melanjutkan uji coba kedua budidaya bawang merah dengan perlakuan biointensif sesuai SOP. Pada uji coba pertama, rasio benih terhadap hasil panen mencapai 1:11,3. Uji coba kedua dilakukan untuk menguji kembali dan memastikan konsistensi hasil tersebut.
Hal tersebut diungkapkan Muhammad Fathun Ni’am, Sekretaris Gapoktan Karya Makmur, melalui keterangannya, Sabtu (24/10).

Muhammad Fathun menjelaskan, seiring perluasan lahan uji coba, kebutuhan pendanaan riset semakin meningkat. Karena itu, pihaknya mengajak masyarakat ikut berinvestasi sebagai bagian dari ikhtiar bersama membangun Kampung Inovasi Pertanian Bawang Merah di Desa Pasir.
“Ini bukan sekadar upaya meningkatkan hasil panen, melainkan ikhtiar bersama untuk mengubah peradaban pertanian. Kami ingin mempertemukan ilmu pengetahuan dengan realitas di lapangan, merawat tanah dan membangun pertanian berkelanjutan,” ujarnya.

Ditambahkan, Tanah ibarat istri yang harus dirawat dan diperlakukan dengan baik. Kami menyadari bahwa investasi ini memiliki risiko, tetapi perubahan membutuhkan keberanian, kepedulian dan gotong-royong. “Mari ambil bagian dalam ikhtiar ini melalui dukungan investasi untuk pengembangan riset dan inovasi pertanian, demi masa depan generasi mendatang,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Paguyuban Keluarga Pasir seDunia (PKPD), H. Fathur Rahman, juga memberikan dukungan dan suport atas gerakan investasi bersama Gapoktan ini yang di asistensi oleh Dekan Fakultas Pertanian IPB.

Menurut Ketum PKPD, ini adalah langkah awal merevolusi pertanian di daerah Demak dengan cara memuliakan tanah yang menjadi sumber kehidupan. “Mari bersama-sama membangun kampung halaman, dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada,” ujar Alumnus STAN & Pajak ini. (Red).












