BANDUNG, BEDAnews.com –
Ketua Umum Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (ASAFI), Prof. Kholid Al Walid, menegaskan bahwa keberadaan ilmu filsafat tidak boleh dipandang sempit hanya dari kacamata daya serap pasar kerja.
Pernyataan tegas tersebut ia sampaikan dalam Simposium dan Musyawarah Nasional (Munas) ASAFI 2026 yang digelar di Bandung, Kamis (22/10), di hadapan 58 peserta dari 25 Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam se-Indonesia.
Menurut Prof. Kholid, cara pandang pragmatis yang mengukur urgensi sebuah disiplin ilmu hanya dari seberapa cepat lulusannya mendapat pekerjaan adalah kekeliruan epistemologis yang berbahaya. Pola pikir semacam ini telah meminggirkan filsafat dari kurikulum pendidikan Islam dan menjadi salah satu akar krisis nalar.













