“Filsafat tidak boleh direduksi hanya dari perspektif pasar kerja. Jika semua ilmu diukur dari pasar, maka kita sedang membunuh peradaban berpikir itu sendiri,” ujarnya.
Tulang Punggung PeradabanProf. Kholid menjelaskan, dalam sejarah keemasan Islam, filsafat dan logika adalah fondasi lahirnya para ilmuwan besar seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, dan Al-Biruni. Filsafat bukan pelengkap, melainkan bangunan utama yang menopang seluruh cabang ilmu, mulai dari teologi, fikih, hingga sains dan astronomi.
Namun kini, ironisnya, pengajaran logika dan filsafat justru tercabut dari madrasah dan pesantren. Akibatnya, pendidikan Islam kehilangan tradisi kritik dan kedalaman analisis.”Kalau filsafat dianggap tidak laku di pasar, lalu kita buang, maka kita sedang mencetak generasi yang bisa bekerja, tapi tidak bisa berpikir. Padahal berpikir adalah inti dari ajaran Islam itu sendiri,” tegasnya.













