Ia menilai, upaya integrasi ilmu yang digagas selama ini belum menyentuh akar persoalan karena masih terjebak pada logika pasar. Integrasi seharusnya dimaknai sebagai pemulihan paradigma tauhid melalui scientia sacra, di mana keesaan Tuhan menjadi pusat seluruh pengetahuan, bukan sebagai proyek penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri semata.
Jawaban untuk Era AI
Lebih lanjut, Prof. Kholid menilai relevansi filsafat justru semakin menguat di era kecerdasan buatan (AI). Di tengah derasnya arus teknologi, filsafat Islam hadir sebagai penjaga moralitas, etika, dan spiritualitas.
“AI bisa menggantikan banyak pekerjaan, tapi tidak bisa menggantikan kebijaksanaan. Di situlah peran filsafat. Filsafatlah yang mengajarkan kita bukan hanya tentang bagaimana cara bekerja, tetapi untuk apa kita bekerja dan hidup,” katanya.













