Oleh: M.R. Mualimin
JAKARTA || Bedanews.com – Gedung putih beratap kubah itu tampak tenang dari luar. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan di lantai marmer yang mengilap. Namun, di ruang-ruang bawah tanah dan bilik-bilik steril nan kedap suara, udara terasa jauh lebih padat daripada biasanya. Di situlah sebuah cerita tentang kekuasaan, dengung frekuensi, dan klik kecil tombol record berawal.
Kabar mengejutkan berhembus kencang melampaui pagar tinggi istana. Satu jenderal bintang empat sempat terseret dalam pusaran angin, akhirnya langkah kakinya dipersilakan bergeser menuju dari kursi tersangka. Sementara itu, tiga jenderal bintang tiga dan puluhan “berbaju cokelat” lainnya harus rela menjejakkan kaki menuju ruang Propam Mabes Polri. Bukan untuk menerima tanda kehormatan, melainkan untuk duduk di kursi interogasi, menjawab rentetan pertanyaan dingin seputar suara-suara asing yang diam-diam menyelinap di antara dinding kekuasaan.













