NU tidak boleh terjebak menjadi organisasi pragmatis yang hanya sibuk bernegosiasi dengan kekuasaan dan teknologi, hingga lupa menyapa santri di akar rumput. Berdiri di persimpangan jalan bukanlah pilihan untuk berhenti, melainkan keberanian untuk memilih arah. NU harus melangkah maju: membawa kitab kuning di tangan kiri dan menguasai kompas modernitas di tangan kanan. Sebab jika NU gagal menyeimbangkannya, ia bukan lagi pengawal tradisi, melainkan sekadar penonton di zamannya sendiri.***
Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).













