Fleksibilitas itulah yang membuat NU terus hidup. Lihat saja bagaimana para kiai NU mengadopsi metodologi pemikiran Barat tanpa kehilangan jati diri keislamannya. Pembaharuan ini tercermin kuat dalam karya historiografi filsafat filsuf Mesir, Ali Sami al-Nasyar, Nasy’at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1977, hlm. 89), yang memperlihatkan bagaimana tradisi dialektika Islam (ilm al-kalam) selalu menyerap serta menaklukkan logika asing tanpa kehilangan akarnya. NU melangkah dengan gaya serupa: menoleransi modernitas bukan karena kalah, melainkan karena yakin mampu menundukkannya.
Meski begitu, tantangan hari ini berbeda tingkat kerumitannya. Ketika modernitas membawa sekularisme ekstrem, individualisme digital, hingga krisis iklim, sikap “menoleransi” saja tidak lagi cukup. Sebagaimana diperingatkan oleh Snouck Hurgronje, dalam Mekka in the Latter Part of the 19th Century (Leiden: E.J. Brill, 1931, hlm. 210), kekuatan Islam tradisionalis Indonesia terletak pada jejaring sosial dan ikatan emosional guru-murid yang amat erat. Jika keterikatan emosional itu tergerus oleh interaksi serba-digital yang impersonal, NU berisiko kehilangan ruh terpentingnya.













