Di antara adab dan budaya viral
Hari ini ruang digital menawarkan panggung kepada seluruh penggunanya. Kesempatan berbicara terbuka luas, termasuk bagi santri yang ingin menyampaikan gagasan, memperkenalkan karya, atau membangun usaha. Suara dari pesantren dapat menjangkau masyarakat yang sebelumnya sulit ditemui. Akan tetapi, panggung juga mengubah dalam cara menilai. Jumlah penonton dapat terasa seperti ukuran kebenaran. Banyaknya pengikut dapat dianggap sebagai bukti kedalaman ilmu. Konten yang menenangkan kalah menarik dibandingkan pernyataan yang memancing pertengkaran. Di sinilah santri membutuhkan kemerdekaan batin, kemampuan berkarya tanpa menyerahkan seluruh harga diri kepada angka di layar.
Menjadi relevan tentu memerlukan bahasa yang dekat dengan masyarakat. Dakwah dapat menggunakan humor, video pendek, ilustrasi, dan percakapan sehari-hari. Kreativitas yang layak dikembangkan dengan tetap menjaga martabat dan ahlak ketika adab terasa hadir dalam keputusan yang sangat konkret. Apakah wajah seseorang boleh diunggah ketika sedang menangis? Apakah kesalahan seorang anak pantas dijadikan hiburan? Apakah perbedaan pendapat harus disampaikan dengan mempermalukan lawan bicara? Pertanyaan tersebut akan menentukan kualitas ruang bersama, dan santri dapat memperkenalkan ukuran keberhasilan yang lebih bermakna, percakapan menjadi lebih jernih, prasangka berkurang, dan mempertontonkan adab santri sejati













