Beragama dengan kedalaman dan keberanian bertanya
Tradisi keilmuan pesantren menyediakan ruang untuk mengenali perbedaan pandangan. Membaca pendapat para ulama dapat mengajarkan bahwa kesungguhan beragama berjalan bersama dengan kerja intelektual menelusuri alasan, memahami konteks, dan menimbang akibat. Kedalaman tersebut menjadi penting agar agama hadir sebagai sumber pertolongan bagi kehidupan. Ketika seorang pekerja kehilangan penghasilan, pembicaraan agama dapat menyentuh keadilan upah dan solidaritas. Ketika keluarga terlilit utang, pendidikan keagamaan dapat membantu membangun kecakapan mengelola keuangan. Ketika lingkungan rusak, tanggung jawab manusia terhadap alam perlu diterjemahkan menjadi tindakan.
Santri juga perlu memiliki keberanian bertanya. Pertanyaan yang diajukan dengan sungguh-sungguh membuka jalan menuju pemahaman. Lingkungan pendidikan yang sehat memberi ruang bagi murid untuk mengakui kebingungan, menguji argumen, dan menyampaikan keberatan secara beradab, serta kebiasaan menghormati guru dapat berjalan bersama tumbuhnya daya pikir, sehingga pendidikan memperoleh kemuliaannya ketika kewibawaan digunakan untuk membimbing. Kedekatan dengan ilmu seharusnya memperluas kesediaan mendengar, terutama terhadap mereka yang lebih muda dan memiliki pengalaman berbeda. Dari ruang belajar sepeti ini , para santri dapat membawa kebiasaan berdialog ke tengah masyarakat yang mudah terbelah.













