Kehadiran kecerdasan buatan membuka banyak kemungkinan bagi pendidikan pesantren. Teknologi dapat membantu latihan bahasa, menata bahan belajar, menyusun pertanyaan awal, atau memperkenalkan beragam sudut pandang atas sebuah persoalan. Bagi lembaga dengan sumber belajar terbatas, kemungkinan tersebut patut dijajaki secara serius.
Namun demikian, penggunaan teknologi memerlukan kecermatan. Jawaban yang tersusun lancar dapat mengandung kesalahan. Rujukan yang tampak meyakinkan harus tetap diperiksa. Persoalan agama, terlebih yang menyangkut keputusan hidup seseorang, membutuhkan pembacaan sumber dan bimbingan orang yang memiliki kompetensi. Tantangan pendidikan kemudian bergeser. Guru perlu mengetahui bagaimana murid sampai pada jawaban, sumber apa yang digunakan, bagian mana yang dipahami, dan kesimpulan mana yang masih meragukan. Kejujuran akademik juga perlu dibicarakan dengan terbuka. Mengakui bantuan teknologi merupakan bagian dari tanggung jawab kepengarangan. Mengumpulkan tulisan yang tidak dipahami hanya memindahkan pekerjaan kepada mesin, sementara kesempatan belajar terlewat begitu saja. Pesantren memiliki bekal untuk menghadapi persoalan tersebut, bekal kesungguhan menuntut ilmu, penghormatan terhadap sumber, dan kesadaran bahwa pengetahuan membawa Amanah, perlu diterjemahkan ke dalam kebiasaan belajar yang sesuai dengan era kini.













