Aktivis mahasiswa 1998 tersebut menilai, fenomena itu mencerminkan adanya kegelisahan publik yang sering kali tidak terlihat secara terbuka. Banyak masyarakat, kata dia, sebenarnya memiliki pandangan kritis, namun memilih mengekspresikannya secara nonverbal atau melalui cara-cara yang lebih tersembunyi. “Ada kegelisahan yang sebenarnya dirasakan publik. Mereka diam secara verbal, tetapi tetap bergerak secara nonverbal. Bukan karena tidak memahami situasi kekinian, melainkan karena merasa belum cukup kuat untuk melawan secara terbuka,” jelasnya.
Silaen menambahkan, jika dibandingkan dengan masyarakat di sejumlah negara lain, keberanian publik Indonesia dalam menuntut keadilan masih relatif terbatas. Namun hal itu tidak berarti masyarakat tidak memahami persoalan yang terjadi. “Sering kita dengar istilah ‘oknum’ digunakan untuk menjelaskan berbagai masalah. Tetapi jika jumlahnya terlalu banyak, publik tentu bertanya-tanya, apakah benar hanya oknum?” kritiknya.













