Ketiga, munculnya kekuatan tekanan sosial atau social pressure di ruang publik. Fenomena seperti gerakan “No Viral No Justice” maupun petisi daring menunjukkan bahwa masyarakat dapat menggalang solidaritas ketika merasa logika publik diabaikan. “Jika pejabat terus menganggap rakyat bisa disuguhi narasi mentah tanpa penjelasan logis, risikonya adalah hilangnya kepercayaan publik. Padahal dalam sistem demokrasi, kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Silaen juga mengajak publik untuk lebih berani mengkritisi kebijakan maupun pernyataan pejabat yang dinilai tidak rasional atau berpotensi merugikan kepentingan bangsa. “Publik yang memiliki logika sehat tentu akan bertanya: apakah ada kebijakan yang dipaksakan meskipun jelas berisiko bagi masa depan bangsa? Jika ada pernyataan pejabat yang terasa meremehkan logika masyarakat, mari kita bedah secara terbuka narasinya,” pungkasnya. (Red/Jpn).













