Nenek moyang kita sudah tahu ini sejak lama. Sebelum mesin penggilingan modern datang, mereka makan beras tumbuk—beras yang hanya ditumbuk untuk membuang sekamnya, tetapi masih utuh dengan semua lapisan dedak dan germ-nya. Beras inilah yang membuat mereka kuat bekerja, melahirkan generasi tangguh, dan bebas dari penyakit modern seperti diabetes dan jantung.
Namun, kita memilih jalan lain. Kita terpesona oleh kilau “modernitas”.
Kita membangun pabrik-pabrik penggilingan yang canggih, bukan untuk memuliakan pangan kita, tetapi untuk menguliti dan membuang bagian terberharganya. Kita menyebut beras yang sudah tercerabut nyawanya ini sebagai “beras putih” dan membanggakannya sebagai simbol kemajuan. Padahal, itu adalah simbol kemunduran gizi, arogansi dan ignoransi.












