Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasehat Militer RI untuk PBB 2017-2019)
JAKARTA || Bedanews.com – *Pendahuluan*
Dunia kembali menahan napas. Selat Hormuz, urat nadi energi global yang mengalirkan 20 persen minyak mentah dunia, kini berubah menjadi panggung utama perang atrisi antara Amerika Serikat dan Iran. Sejak April 2026, Iran resmi memberlakukan 12 aturan lalu lintas pelayaran yang meliputi larangan permanen bagi kapal Israel, pungutan transit mencapai 2 juta dolar AS per kapal tanker raksasa, serta kuota hanya 12 kapal per hari yang diizinkan melintas. Respons AS datang cepat dan keras: blokade laut yang merugikan Iran hingga 4,8 miliar dolar AS dari pendapatan minyak, serta peluncuran “Project Freedom” untuk mengawal kapal dagang sekutu melewati selat sempit itu.













