Bandung, BEDAnews
Program diploma dinilai sebagai investasi pendidikan yang tidak prospektif atau kurang menguntungkan dibandingkan program sarjana ke atas. Karena Internal Rate of Return (besaran manfaat pendidikan) program diploma sangat rendah, sehingga kurang menarik dan tidak berkembang.
Hal tersebut diungkapkan Prof. Ace Suryadi, dalam pidato pengukuhan Guru Besar Bidang Ekonomi Pendidikan (Pendidikan Luar Sekolah) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Rabu (25/4) di Balai Pertemuan Umum UPI, Jln. Dr. Setiabudhi Bandung.
Menurutnya, pendidikan dasar masih merupakan investasi yang paling menguntungkan dengan besaran IRR (besaran manfaat pendidikan) yang tertinggi. Salah satu sebabnya karena biaya kesempatan (forgone earning) pendidikan dasar paling rendah dibanding pendidikan di atasnya.
Secara umum diungkapkan Prof. Ace, pendidikan masih merupakan investasi menarik untuk dilakukan baik oleh pemerintah, perorangan, lembaga swasta maupun investor asing. Sebab berdasarkan analisis, perluasan pendidikan merupakan investasi yang mampu memacu produktivitas nasional.
Produktivitas nasional telah meningkat selama kurun waktu 2000-2009. Di Indonesia, rata-rata penghasilan lulusan setiap jenis dan jenjang pendidikan tumbuh positif dalam kurun waktu tersebut, jelasnya.
Pendidikan sarjana dan pasca sarjana merupakan investasi yang memberikan keuntungan lebih besar bagi perorangan dengan besaran IRR perorangan tertinggi setelah SD.
Di Indonesia, sarjana atau pasca sarjana adalah lulusan yang sangat produktif baik dalam pekerjaan di sektor pemerintah maupun di sektor swasta, terang Ace yang menyampaikan pidato berjudul "Mengukuhkan Kembali: Pendidikan Sebuah Investasi Produktif (Rate of Return to Education, Indonesia 2010)".
Ace menguraikan, investasi pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan lebih menguntungkan bagi perorangan ketimbang bagi pemerintah. Sebab beban biaya yang harus diatnggung oleh pemerintah cukup besar dan semakin besar, khususnya jenjang pendidikan dasar dan menengah.
"Investasi pendidikan tinggi juga lebih menguntungkan perorangan ketimbang pemerintah karena subsidi pemerintah untuk pendidikan tinggi sangat besar. Khususnya PTN yang menampung 60% dari seluruh mahasiswa di Indonesia. Biaya yang ditanggung pemerintah sangat besar dibandingkan dengan biaya yang dibebankan kepada perorangan atau keluarga," ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, dua guru besar UPI lainnya juga menyampaikan pidato pengukuhan. Mereka adalah Prof. Fransisca Sudargo, guru besar bidang pendidikan biologi Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, serta Prof. Hj. Hertien Koosbandiah Surtikanti, guru besar bidang biologi lingkungan Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Prof. Fransisca menyampaikan pidato berjudul "Metapedagogi Dalam Pendidikan Guru Biologi: Membangun Kemampuan Berpikir Kritis. Dan Kreatif Melalui Pembelajaran Berbasis Praktikum".
Kemudian, Prof. Hertien menyampaikan pidato berjudul "Pengembangan Metode Uji Hayati Tingkat Ekosistem Hingga Molekuler Berbasis Profil DAS Cikapundung. (Hargribs)











