Konteksnya berbeda: tahun 1965, Indonesia hampir runtuh. Ekonomi terpuruk, konflik ideologi memuncak. Kekuasaan sipil nyaris lumpuh.
Tindakan Presiden Soeharto bisa dipahami sebagai strategi bertahan hidup sebuah negara _(state survival strategy)_. Bukan karena ambisi pribadi. Ia muncul bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai penegak ketertiban dalam situasi kritis.
Banyak negara lain menghadapi dilema serupa. Spanyol, memilih _*Pacto del Olvido*_ — perjanjian untuk melupakan — setelah era Jenderal Franco. Bukan untuk menutup-nutupi kesalahan. Akan tetapi untuk mencegah dendam menghancurkan masa depan.
Korea Selatan dan Taiwan baru berani membuka lembaran masa lalu setelah negara stabil dan makmur. Di Afrika Selatan, Nelson Mandela memilih jalur _*Truth and Reconciliation Commission*_. Ruang untuk mengakui kebenaran dan memaafkan tanpa melupakan.













