Jenderal Sudirman dulu berpesan: “Pelihara TNI, jangan sampai TNI dikuasai partai politik.” Sekarang saya sampaikan pesan yang sama untuk NU. Pelihara NU, jangan sampai NU dikuasai oleh kekuasaan mana pun!
Jika NU menjadi properti presiden, ia akan bisu. Ia tidak akan bisa mengkritik ketika negara salah. Ia akan menjadi tameng bagi kebijakan yang keliru. Pada saat itulah, rakyat akan meninggalkan NU. Kepercayaan yang dibangun sejak 1926 akan roboh dalam sekejap.
*Kemitraan Setara, Bukan Kepemilikan Politis*
Lantas, bagaimana hubungan yang ideal?
Saya jawab dengan satu kata: kemandirian.
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, baru saja menegaskan bahwa Presiden Prabowo tidak akan mencampuri pemilihan kepemimpinan NU. “Beliau tidak akan ikut campur menentukan siapa yang memimpin. Jika ada yang mengaku didukung Presiden, itu tidak benar,” kata Gus Irfan. Beliau berharap Muktamar berlangsung sejuk, tanpa politik uang, tanpa campur tangan kepentingan politik luar.













