Oleh: Mayor Jenderal TNI (Purn) Dr. (C) Fulad
JAKARTA || Bedanews.com –
*Pendahuluan*
Dua pekan lalu, di Bangkalan, Madura, Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan ribuan kiai dan santri. Beliau menyebut NU sebagai “faktor stabilisator” bangsa. Beliau mengaku nyaman di tengah keluarga besar NU sejak kecil. Bahkan beliau berkelakar, lagu Syubbanul Wathon ciptaan pendiri NU sudah mengajarkan “salam komando” sebelum TNI ada.
Saya menyaksikan semua itu dari layar kaca. Sebagai prajurit TNI yang pernah duduk di kursi diplomasi PBB, dan sebagai warga NU, saya bertanya: di balik semua pelukan itu, apa yang sebenarnya terjadi?
Presiden sangat membutuhkan NU. Itu fakta. Tapi saya tegaskan di sini: NU tidak boleh dan tidak akan pernah dimiliki oleh siapa pun. Bukan oleh presiden, bukan oleh partai, bukan oleh kelompok mana pun. Itu harga mati.













