Sejarah adalah guru yang paling jujur. Saya menyaksikan sendiri bagaimana Orde Baru merangkul NU, lalu mengebirinya.
Di era Soeharto, pemerintah melakukan kooptasi dan intervensi terhadap NU. Pengurus dipilih atas restu istana. Suara kritis dibungkam dengan proyek dan dana. Akibatnya, NU kehilangan ruh perjuangannya. Kepercayaan rakyat mulai luntur. Baru pada Muktamar Cipasung 1994, NU berhasil lepas dari represi dan intervensi penguasa Orde Baru. Itu perjuangan panjang.
Sekarang, jelang Muktamar ke-35 NU pada 1–5 Agustus 2026, saya mencium bau yang sama. Ada pihak-pihak yang sibuk membangun apa yang disebut “poros istana”. Mereka mengklaim mendapat restu presiden. Mereka ingin menguasai NU melalui kekuasaan.
NU harus mengambil jarak yang sama terhadap semua kekuatan politik dan tidak terlibat dalam kontestasi kekuasaan.













