“Bila selama di Pulau Jawa Bung Karno membakar semangat massa dengan pidato politik yang menggelegar, di Ende dengan tonil Bung Karno melakukan edukasi terhadap masyarakat yang mayoritas kelas bawah yang sebagaian besar tanpa pendidikan,” kata Maria Matildis Banda.
Pada bagian lain, Pater Yosef Seran SVD, lebih memfokuskan pembicaraan terkait peran Gereja Katolik dalam memberi ruang kepada Bung Karno selama berada di Ende, yang secara rutin memberi kesempatan kepada Bung Karno untuk berkunjung membaca buku dan berdiskusi terkait spirit keinginan merdeka termasuk juga menerima masukan tentang hal-hal prinsip bernegara dari para pastor Eropa.
“Pertanyaan Pater Huijtink tentang bagaimana negara yang dicita-citakan mengingat Ibu Bung Karno yang Hindu dan berasal dari Bali. Juga bagaimana dengan orang Flores dalam negara menjadi refleksi serius bagi Bung Karno. Disebutkan juga bagaimana gereja Katolik memberi fasilitas Gedung Imaculata sebagai tempat Bung Karno mementaskan tonil,” ujar Pater Yosef Seran SVD.













