Meskipun dalam keterbatasan, lanjutnya, namun berkat keluwesan pergaulannya dengan kelompok gereja serta diskusi-diskusi gagasan yang bernas, menjadi endapan yang akhirnya meluap saat pidato tentang dasar negara dalam rapat BPUPK pada 1 Juni 1945 tentang Pancasila, yang menurut Bung Karno sendiri hasil refleksinya selama berada di Ende.
Selain menuliskan 12 surat terkait Islam, selama di Ende Bung Karno juga membuat duabelas tonil yang dipentaskan di Gedung Imaculata milik Gereja Katolik.
Terkait hal itu, Ahli Sastra dan Linguistik Universitas Udayana Bali, Dr. Maria Matildis Banda secara khusus membahas 12 tonil yang ditulis serta dipentaskan bersama Group Tonil Kelimutu, di mana Bung Karno juga sebagai sutradara dan pelatih. Secara umum disebutkan bahwa pementasan tonil efektif dipakai Bung Karno untuk mengekspresikan kehendak merdeka.













