Coba bayangkan. Anda sedang duduk di meja perundingan, tapi lawan bicara Anda mengatakan Anda seharusnya sudah mati. Itu bukan bahasa diplomasi. Itu bahasa ancaman. Dan ancaman tidak pernah melahirkan perdamaian yang tulus.
*Pengalaman saya di PBB dulu*
Saya ingat betul, selama menjabat sebagai penasehat militer RI untuk PBB (2017-2019), saya sering melihat gencatan senjata yang gagal. Penyebabnya hampir selalu sama: tidak ada mekanisme pengawasan yang kredibel. Tidak ada mata di lapangan. Tidak ada pasukan pemisah. Hanya ada secarik kertas dan saling curiga.
Di Islamabad sekarang, saya melihat pola yang sama. Pakistan hebat sebagai fasilitator, hormat saya kepada PM Shehbaz Sharif dan Panglima Asim Munir. Tapi menjadi tuan rumah bukan berarti menjamin hasil. Medan perang tidak sama dengan peta perang, begitu kata rekan-rekan saya di lapangan dulu.













