Agar penilaian saya tetap objektif dan adil, saya mencoba memahami substansi pernyataan yang disampaikan Dr. Gema. Pada intinya, ia mengkritik para pengamat yang menurutnya sering merasa lebih pintar daripada para pengambil keputusan, gemar mengkritik ketika kondisi negara sedang sulit, namun kemudian diam ketika situasi membaik. Ia juga berpendapat bahwa sebagian pengamat terjebak dalam sikap negatif, kedengkian dan pesimisme sehingga tidak lagi memberikan kontribusi yang konstruktif bagi Indonesia.
Menurut saya, pandangan tersebut perlu diluruskan. Dalam sistem demokrasi, kritik dari pengamat, akademisi, media massa, aktivis, maupun masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Kritik bukanlah ancaman bagi pemerintah atau presiden, melainkan instrumen penting untuk melakukan koreksi terhadap kebijakan, mencegah penyalahgunaan kekuasaan, serta mendorong terciptanya pemerintahan yang lebih baik, transparan dan akuntabel.













