Karena itu, saya menilai narasi “pengamat biadab” yang disampaikan Dr. Gema Goeyardi merupakan generalisasi yang kurang tepat. Tidak semua pengamat yang kritis terhadap pemerintah memiliki niat buruk, rasa dengki, atau keinginan melihat negara mengalami kegagalan. Banyak pengamat justru menjalankan fungsi kontrol sosial dan intelektual sebagai bagian dari kontribusinya kepada bangsa dan negara.
Negara membutuhkan pengkritik yang berani, jujur, dan independen untuk melakukan koreksi terhadap berbagai kebijakan yang dianggap kurang tepat. Negara tidak membutuhkan budaya menjilat, membenarkan semua kebijakan tanpa evaluasi, atau sikap munafik yang hanya menyampaikan hal-hal menyenangkan di hadapan penguasa. Dalam jangka panjang, budaya kritik yang sehat akan menghasilkan pemerintahan yang lebih transparan, lebih akuntabel dan lebih berpihak kepada kepentingan rakyat. ***













