Lalu Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Solusi selalu ada tetapi jarang yang berani memulainya, karena yang harus diubah bukan hanya teknis, tetapi cara pandang. Pertama, kita perlu menata ulang hubungan kita dengan ruang hidup. Sungai bukan halaman belakang, tetapi makhluk dengan hak alirnya sendiri.
Gunung bukan latar foto wisata, tetapi penyangga ekologi. Hutan bukan stok kayu, tetapi mesin kehidupan. Kedua, negara harus menggeser fokus dari ‘respon cepat’ menuju ‘pencegahan bijak’. Respon cepat penting, tetapi mitigasi jauh lebih murah, lebih manusiawi, dan lebih bermasa depan. Ketiga, hukum lingkungan harus ditegakkan dengan serius. Bukan untuk menghukum orang, tetapi untuk melindungi kehidupan. Keempat, kita perlu memandang mitigasi sebagai bagian dari moral public bukan sekadar teknis infrastruktur. Seperti halnya kita menjaga keselamatan anak-anak kita, begitu pula kita menjaga tanah, udara, air, dan pepohonan. Mereka bukan milik kita, tetapi milik generasi setelahnya .













